Loading...
HeadlineSosial & Budaya

CPNS : Fenomena dan Permasalahannya

Oleh : Saddam Rassanjani

Tampaknya akhir-akhir ini CPNS menjadi trending topic dikalangan para job seeker. Ialah Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang bisa dibilang sebagai sebuah pekerjaan yang menjadi harapan jutaan ummat yang ada di seluruh penjuru Indonesia. Tersedia bagi seluruh lintas jurusan, baik eksakta maupun non-eksakta, bagi lulusan pendidikan menengah hingga perguruan tinggi negeri. Sederet keuntungan menanti para calon pegawai negeri sipil tersebut, diantaranya: keamanan jaminan kerja, karena langsung diangkat dengan SK Menteri; gaji Pasti, ada gaji pokok dan berbagai macam jenis tunjangan; tidak ada PHK, jarang sekali kecuali anda melakukan kesalahan-kesalahan berat; punya jenjang karir dan jabatan yang jelas; kesempatan melanjutkan kuliah S1 hingga S3 gratis dengan biaya pemerintah; dan yang paling penting jaminan di hari tua melalui dana pensiun, jadi tidak heran apabila PNS ditasbihkan sebagai profesi incaran nomor wahid di Indonesia. Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Litbag Koran Sindo, dari 10 profesi populer di Indonesia, PNS nangkring diurutan pertama sebagai pekerjaan yang paling sangat diinginkan oleh masyarakat Indonesia (koran-sindo.com/node/384472), bahkan ada sebuah survei unik yang dilakukan di Yogyakarta yang menyatakan PNS merupakan profesi anti-jomblo, karena PNS merupakan menantu idaman para mertua (beritajogja.co.id/2014/06/22/survei-100-mantu-ideal-adalah-pns).

Banyak yang bercita-cita untuk bisa menjadi abdi negara dan tidak sedikit pula yang membenci pekerjaan sebagai pelayan masyarakat ini. Ya bisa dibilang PNS menjadi profesi yang dibenci tapi dicintai. Seabrek citra negatif yang ditimpakan kepada PNS membuat orang-orang berpandangan sebelah mata terhadap profesi yang satu ini, mulai dari pelayanan publik yang tidak optimal, kurang ramah, acuh tak acuh, muka masam, plesiran keluar disaat jam kerja, bolos ke kantor di hari pertama paska liburan, dan kelakuan-kelakuan tidak pantas lainnya, tak ayal akhirnya banyak yang memplesetkan akronim PNS menjadi “Pegawai Negeri Santai”. Namun terlepas dari stigma negatif PNS dimata masyarakat, tetap saja jutaan masyarakat diluar sana berbondong-bondong mendaftarkan diri untuk menjadi aparatur negara melalui jalur seleksi CPNS tahun 2014 ini.

Sering PHP (Pemberi Harapan Palsu)

Kesabaran para peminat PNS kembali diuji pada penerimaan CPNS tahun 2014 ini, mereka harus rela menanti berbulan-bulan lamanya untuk mendapatkan kepastian dari pemerintah melalui Panitia Seleksi Nasional (Panselnas) yang dikomandoi langsung oleh Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kemenpan-RB) terkait jadwal penerimaan CPNS tahun 2014. Dan seperti tahun sebelumnya Panselnas kembali menjadi pesakitan dengan melakukan kesalahan yang sama seperti tahun 2013 yang lalu. Panselnas seperti hobi PHP dengan sering kali melakukan pengunduran jadwal yang pada semulanya dijanjikan pada awal Juni, kemudian pindah ke akhir Juli, dan akhirnya baru terealisasikan pada akhir Agustus lalu (sedikit lebih baik daripada tahun lalu yang molornya sampai akhir September). Dan tentunya pihak Panselnas memiliki pembelaan sendiri terkait melencengnya jadwal pelaksanaan CPNS 2014, salah satu alasan poluler yang dikemukakan oleh pihak Panselnas adalah permasalahan penetapan jumlah alokasi formasi di tiap-tiap instansi yang tarik-ulur.

Pihak Panselnas akhirnya memang menepati janjinya dengan membuka pendaftaran di akhir Agustus, namun permasalahan lain kembali bermunculan. Ya, diawal masa pendaftaran website Panselnas sempat down akibat serbuan pelamar yang mengakses situs secara bersamaan, dan hal ini kembali membuat para pelamar menjadi kesal dan kecewa. Permasalahan lain yang mengemuka adalah terkait mekanisme pengumuman tiap-tiap instansi yang tidak serentak, bahkan memasuki minggu keempat pendaftaran, masih saja ada instansi yang sama sekali belum mengumumumkan rincian formasinya.

Sementara itu demam CPNS juga ikut menjangkit masyarakat Aceh. Antusiasme masyarakat Aceh juga diuji oleh sejumlah instansi di Aceh yang juga terlambat mengumumumkan jumlah alokasi formasi dan pembukaan pendaftaran. Menurut pantauan penulis di situs resmi Panselnas per 23 September 2014, Kabupaten Pidie menjadi yang paling awal membuka pendaftaran yaitu sejak 1 September, sembilan hari kemudian disusul oleh Aceh Barat Daya, Aceh Besar, Aceh Selatan, Aceh Singkil, Aceh Tamiang, Pidie Jaya, dan Simelue yang serentak membuka pendaftaran sejak tanggal 10 september, lalu secara beruntun dari tanggal 11-20 September giliran Bener Meriah (11), Aceh Timur (12), Aceh Tenggara (13), Propinsi Aceh (15), Bireuen (17), dan terakhir Nagan Raya (20) yang sudah membuka pendaftaran. Dan sampai saat ini masih menunggu kepastian dari Aceh Barat, Banda Aceh yang sama sekali belum membuka pendaftaran.

Antara Untung dan Buntung

Fakta di lapangan membuktikan bahwa tidak semua peserta CPNS lulus berdasarkan kemampuan akademiknya, yang cumlaude bisa saja disingkirkan oleh peraih IPK standar, jadi istilah “orang pintar kalah sama orang bejo” sangat mungkin terjadi disini. Diluar kemampun akademik, terdapat beberapa faktor teknis yang ikut serta mempengaruhi kelulusan para peserta CPNS, terutama dalam hal pemilihan instansi dan formasi. Misalnya Kementerian Keuangan yang merupakan salah satu instansi favorit, pada tahun ini jumlah pendaftar mencapai angka 134666 orang sedangkan yang dibutuhkan hanya 9000 orang saja, bayangkan saja jumlah pelamar mencapai 15 kali lipat dari jumlah alokasi formasi yang tersedia, dengan kondisi demikian maka hasilnya sebanyak 125666 orang harus rela mengubur mimpi mereka untuk menjadi PNS tahun ini.

Untuk menjaga peluang lulus CPNS, ada baiknya bagi para peserta agar pandai-pandai dalam memilih instansi dan formasi. Misalnya dengan memilih instansi yang sepi peminat (non-favorit), tentu disini dibutuhkan intuisi tinggi melalui strategi pemetaan dan pertimbangan masing-masing, contoh: pada institusi A tersedia dua formasi untuk lulusan Ekonomi Pembangunan/Manajemen/Akuntansi, sedangkan pada institusi B tersedia satu formasi untuk lulusan Manajemen, tentu peluang lulus lebih besar di institusi B karena peserta hanya menghadapi saingan dari satu bidang ilmu saja, sedangkan pada institusi A persaingan lebih komplek karena ada tiga rumpun ilmu disitu.

Selain itu pelamar juga harus teliti dan seksama dalam memperhatikan persyaratan yang diajukan instansi, karena tiap-tiap instansi berbeda dalam mensyarakatkan kebutuhannya, misalnya ada instansi yang mensyaratkan pelamar harus berasal dari jurusan yang akreditasinya minimal B. Kemudian ada juga institusi yang mensyaratkan TOEFL yang nilainya berfariasi dari 450 sampai 500. Penting bagi para pelamar CPNS untuk tidak lalai dalam memperhatikan segala persyaratan tiap-tiap instansi, dua contoh minimal persyaratan diatas bisa dijadikan gambaran, mudahnya saja bagi para calon peserta yang berasal dari jurusan yang akreditasinya dibawah yang disyarakat maka harap melamar institusi yang sama sekali tidak mensyarakatkan minimal akreditasi, begitu juga yang tidak memiliki TOEFL harap mendaftar ke instansi yang tidak ada ada TOEFL dalam persyaratannya. Tingkat kehati-hatian dan kejelian disini sangat dibutuhkan jika tidak ingin gagal sebelum bertanding (tidak lulus administratif).

Reformasi Birokrasi

Istilah “tidak semudah membalikkan telapak tangan” bisa menjadi gambaran atas usaha keras dari Kemenpan-RB yang melakukan berbagai macam inovasi dan perubahan dalam sistem perekrutan pegawai aparatur negara demi menghapuskan mata rantai Kolusi-Korupsi-Nepotisme (KKN) yang selama ini menggerogoti birokrasi. Karena pandangan populer dimasyarakat dari dulu mungkin masih ada sampai sekarang adalah yang berkesempatan menjadi PNS adalah mereka-mereka yang memiliki sanak-saudara di birokrasi, ataupun mereka-mereka yang main mata dengan memanfaatkan uang pelicin.

Moratorium PNS (1 September 2011 sampai 31 Desember 2012) sepertinya menjadi titik awal Kemenpan-RB dalam melakukan Reformasi Birokrasi. Wajah birokrasi benar-benar diubah, gaya perekrutan lama diubah dengan metode baru yang lebih memanfatkan media teknologi informasi (online), hal ini berdampak baik terhadap berkurangnya populasi calo-calo nakal yang biasa beroperasi pada saat pendaftaran dengan menggunakan metode lama. Kemudian tes dengan menggunakan metode Computer Assisted Test (CAT), sehingga peserta tidak perlu lagi menunggu lama untuk mengetahui hasil tes. Kemudian hadirnya website panselnas.menpan.go.id membuat masyarakat mempunyai pusat informasi terpadu, sehingga kemudahan untuk mendapatkan informasi seputar CPNS terutama terkait instansi dan formasi bisa lebih mudah, tidak seperti tahun-tahun sebelumnya dimana informasi satu instansi dan instansi lainnya terpisah-pisah.

Pada awal pendaftaran, para pelamar kini juga lebih dipermudah dalam urusan administratif dengan tidak perlu mengurus Kartu Kuning, Kartu Sehat, SKCK, yang mengharuskan para pelamar untuk mengeluarkan biaya sendiri dalam pembuatannya, padahal walaupun sudah mengeluarkan besaran dana tidak ada jaminan bahwa mereka akan otomatis diterima sebagai pegawai negeri sipil.

Jika dihitung sudah terlalu banyak langkah yang telah dilakukan Kemenpan-RB terhadap Reformasi Birokrasi pengadaan CPNS. Ada yang sudah berhasil, ada juga yang masih perlu proses untuk bisa berhasil. Masyarakat harus sabar dan mendukung sepenuhnya niatan mulia dari pemerintah untuk melakukan perbaikan dalam layanan publik. Semoga saja berbagai macam permasalahan dan kekurangan pengadaan CPNS tahun ini tidak terjadi lagi pada pengadaan CPNS tahun mendatang, dan semoga saja pihak Panselnas berhasil melaksanakan seleksi CPNS yang bebas KKN dan mampu menciptakan sumber daya aparatur yang berkualitas. Aamin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Hit Counter provided by technology news